CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS

derby banget

friendship

my idol

my idol

buku shanty

Pengalaman untuk menjadi Mahasiswi Unlam

Hari ini kuliah perdana saya, semalaman saya tidak bisa tidur nyenyak karena gelisah menunggu pagi untuk kuliah. Saya bangun dengan rasa penasaran yang luar biasa. Dalam hati saya berkata “inilah saatnya saya memulai meraih cita-cita”. Mendapatkan gelar Mahasiswi Unlam tidak mudah, perlu pengorbanan besar untuk meraihnya. Berkali-kali saya mengikuti tes seleksi masuk Unlam berkali-kali pula saya gagal. Pernah suatu hari saya merasa putus asa, saya berfikir tuhan tidak adil, semuanya sudah saya korbankan baik materi, waktu, emosi, dan kesehatan, hanya nyawa saja yang belum saya korbankan, tapi kenapa saya selalu gagal?. Saya renungkan pertanyaan itu di dalam kamar sambil menangis hingga akhirnya saya teringat pesan guru saya sewaktu saya masih duduk di bangku SMA, beliau berkata “di balik kesulitan pasti ada kemudahan dan keberhasilan seseorang pasti berbanding lurus dengan usaha yang telah dilakukannya”. Sambil terus menangis saya fikirkan kata-kata itu dan tiba-tiba saya juga teringat acara reality show di televisi yang punya slogan “when there is a will, there is a way”, yang kurang lebih artinya ketika ada kemauan pasti ada jalan.karena terinspirasi denagn kata-kata itu saya langsung bangkit dari ranjang, saya basuh muka saya dengan tujuan agar saya lebih segar. Dengan mata yang masih sembab, saya bercermin dan saya berkata dalam hati “saya harus bisa”!. Kegagalan bukan akhir dari segalanya, tapi kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda.

Keesokan harinya keadaan saya sudah seperti semula, saya kembali menjadi anak yang periang dan bukan lagi anak yang cengeng. Saya meminta izin kepada orang tua saya untuk mengikuti tes seleksi masuk Unlam yang terakhir atau lebih tepatnya disebut Tes Mandiri. Orang tua saya mengizinkan dengan senang hati, saya memang orang yang beruntung, mempunyai orang tua yang selalu mendukung saya dalam melakukan hal-hal yang positif termasuk mengikuti Tes Mandiri walaupun sebelumnya saya pernah gagal.

Saya bergegas menyiapkan segala sesuatu untuk mengikuti Tes Mandiri yang akan dilaksanakan di Banjarmasin. Hanya dalam waktu 30 menit 1 tas ransel sudah siap untuk saya bawa. Saya harus membawa baju lebih dari 2 lembar karena jarak yang cukup jauh membuat saya tidak mungkin bisa pulang pergi dalam waktu 1 hari. Untuk bisa sampai ke Banjarmasin, saya harus naik taxi selama 5 jam, tetapi tak apalah ini semua demi cita-cita. Sesampainya di Banjarmasin saya memutuskan untuk istirahat dulu di rumah teman, baru keesokan harinya saya akan menyelesaikan masalah pendaftaran saya.

Panas, lelah, dan berdesak-desakan itulah suasana yang saya rasakan saat saya mendaftar Tes Mandiri. Setelah berjam-jam saya antre akhirnya selesai juga urusan pendaftaran saya. Saya segera pulang ke rumah teman saya dengan harapan semoga apa yang sudah saya lakukan membuahkan hasil yang baik.

Urusan pendaftaran saya sudah selesai dan saya merasa sudah tidak ada lagi yang ingin saya kerjakan di Banjarmasin, sayapun memutuskan untuk pulang ke rumah saya sendiri. Terlalu membuang-buang uang jika saya berlama-lama di Banjarmasin, sedangkan waktu tes masih lama.

Tas ransel berisi baju dan perlengkapan lainnya kini sudah siap untuk saya ajak menemani perjalanan pulang. Saya harus naik angkot 2 kali untuk bisa sampai ke terminal. Saya menunggu angkot yang pertama dengan sabar dan akhirnya tidak lama kemudian angkotpun datang. Saya segera naik angkot itu, setelah angkot berjalan kira-kira 500 meter saya teringat kalau saya belum memberi khabar orang tua saya bahwa saya akan pulang hari ini. Segera saya cari handphone saya di dalam tas, tapi oh tuhan handphone nokia tipe 5200 saya hilang. Saya sangat sedih, tapi saya tidak bisa menangis. Saya takut karena orang tua saya pasti akan marah besar kepada saya. Di sepanjang perjalanan pulang tidak banyak yang bisa lakukan kecuali memikirkan nasib saya yang malang. Rasanya saya tidak berani pulang, saya tidak sanggup menghadapi kemarahan orang tua saya. Tidak lama kemudian saya sampai di rumah, sambil terus berzikir dan menyabut asma Allah saya memberanikan diri untuk menceritakan semuanya kepada orang tua saya. Semua dugaan saya benar, orang tua saya marah besar kepada saya, saya kembali dalam keputusasaan, saya merasa sayalah orang yang paling menderita di dunia ini.

Singkat cerita, hari dilaksanakannya Tes Mandiri tiba, saya mengikuti tes itu tanpa kesulitan yang berarti, mulai dari tes tertulis sampai tes wawancara. Setelah saya mengikuti tes saya menunggu pengumuman yang akan diumumkan dengan sabar, hingga hari itupun tiba. Namun sungguh mengecewakan, bukan pengumuman kelulusan yang saya dapat melainkan pengumuman bahwa hasil Tes Mandiri akan diumumkan 3 hari lagi. Perasaan saya semakin tidak karuan, ingin rasanya saya punya indra ke-6 supaya saya tahu lebih dulu tentang hasil Tes Mandiri.

Hari yang saya tunggu-tunggu tiba, tepatnya tanggal 24 agustus 2009 jam 07.00 saya sudah mulai membuka internet untuk melihat pengumuman. Dengan perasaan yang gugup luar biasa, saya meneliti nama-nama peserta yang lulus dengan seksama. Sampai akhirnya saya sampai di Prodi Bahasa Inggris dan ternyata nama saya terpampang disana. Tidak bisa diungkapkan lagi betapa bahagianya saya terlebih lagi orang tua saya. Saya sadar ternyata benar kata guru saya bahwa di balik kesulitan pasti ada kemudahan, dan keberhasilan seseorang pasti berbanding lurus dengan usaha yang telah dilakukannya. Sekarang saya resmi menjadi Mahasiswi Unlam untuk Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, terima kasih ya Allah.